IDENTITAS[1]


                                                                              
Hal ini berawal ketika Marwan bin Hikam mengutus seorang penjaga rumahnya untuk pergi kerumah sahabat Ibnu Abbas dalam rangka menayakan permasalahan tentang ‘asbabun nuzul’ dari sebuah ayat. Pertanyaan tersebut adalah apakah ayat ini turun untuk orang muslim atau punya maksud lain? Jawab Ibnu Abbas : sebetulnya ayat ini tidak ditunjukkan untuk orang muslim, tapi untuk orang-orang Ahlu Kitab yang suka membagakan diri dan memuji dirinya sendiri.[2]  Penuturan beliau (Ibnu Abbas) berawal dari cerita nabi Muhammad ketika bertanya kepada Ahlu Kitab tentang sesuatu (hal yang bersifat akidah, ideologi dan teologi) mereka kemudian menyembunyikannya, tetapi mengkabarkannya kepada orang lain. Perbuatan inilah yang menjadi saksi turunnya ayat tersebut.
Saksi turunnya ayat al-Qur’an di bahasakan oleh ilmu penafsiran dengan ‘asbabun nuzul’. Asbabun nuzul ini menjadi penjelas setiap ayat al-Qur’an yang dianggap masih tabu. Fungsi penjelas ini, tidak hanya berputar pada penjelasan saja, tapi bisa berfungsi mengerucutkan sebuah hukum yang mutasabih. Hal ini diamini oleh imam Haramain (Abu Ma’ali Abdul Malik bin Abi Abdillah bin Yusuf bin Muhammad bin Muhammad al-Juwaini) bahwa asbabun nuzul adalah metode yang paling bagus dalam menafsirkan al-Qur’an dan menjaga lafadz dari penakwilan tanpa sebab, dalam arti lain membawa penfsiran ke arah yang lebih benar atau penjelas lafadz yang tabu.
Fungsi yang identik ini adalah salah satu tanda bahwa al-Qur’an mempunyai identitas yang tidak bisa dipalsukan, meski dari segi penfsirannya, karena ia (al-Qu’an) mempunyai kartu asbabun nuzul untuk pembuktiannya.  Jika kita melihat ke dalam sejarahnya, al-Qur’an diturunkan untuk seluruh umat manusia dan sebagai penyempurna kitab-kitab para nabi terdahulu. Dibagian bahasanya terdapat 7 bacaan; dibagian ke-ilmuannya terdapat macam-macam pengajaran; dibagian logikanya terbagi bermacam-macam kriteria; dibagian petuah-petuah terekam macam-macam cerita, yang semua terlalu luas untuk diidentifikasi atau dijadikan identitas al-Qur’an.
Ke-objektifan asbabun nuzul seharusnya menjadi contoh manusia dalam membawa identitas pribadinya masing-masing—baik yang beragama Islam, hindu, budha, berstatus pelajar, santri, pekerja, guru, doktor dll. Keberadaan mereka di manapun itu, akan selalu mengundang pertanyaan siapa kamu. Apalagi jika prilaku mereka tidak sesuai dengan norma dan nilai masyarakat yang berlaku, justru semakin menambah runcingnya pertanyaan tentang siapa dirinya. Coba kita lihat kembali kejadian-kejadian yang telah berlalu! Bom bunuh diri dibali adalah tindakan yang menyalahi norma dan nilai masyarakat Indonesia, hal itu akhirnya menimbulkan pertanyaan tentang siapa pelaku bom bunuh diri tersebut, atas dasar apa mereka melakukannya, apa agamanya, atas siapa mereka berkomando, banyak lagi pertanyaan yang keluar untuk menelusuri identitas pelaku tersebut dan sebab terjadinya bom bunuh diri.  Contoh kasus lain yaitu, tindak asusila yang dilakukan pelajar membawa banyak pertanyaan sampai kehilangan harga diri serta membawa ke-identitas yang tabu di masyarakat. Bila pernyataan atas tindakan asusila ini tidak benar, bisa melakukan angket ke dalam setiam organ masyarakat untuk membuktikan bahwa tindak asusila tidak menyalahi norma yang berlaku untuk dikalangan masyarakat Indonesia.
Di sisi lain dari pelanggaran normatif kehidupan, membawa sesuatu yang bersangkutan jatuh ke dalam lobang kenistaan atau mendapat asumsi jelek dari orang sekitar, sampai-sampai hilang kepercayaan terhadapnya. Akan tetapi, jika pelanggaran itu diganti dengan ketaatan dan ke-tanggungjawaban dalam membawa simbol identitas maka sesuatu yang bersangkutan pun ikut mendapat penghargaan. Di sinilah letak pentingnya identitas seseorang, begitu juga asbabun nuzul dalam penfsiran, membawa sekitarnya mendapat bau yang ia (identitas) sebarkan.
Tetapi nilai penting tersebut bisa menjadi pudar, bila identitas dipalsukan dengan sesuatu yang mungkin sulit dinalar. Dalam artian, si-pembawa identitas tidak menyadari siapa dirinya dan apa yang dibawanya. Hal ini sesuai dengan se-seorang yang menafsirkan al-Qur’an tanpa mengetahui asbabun nuzul. Seperti yang pernah terjadi seorang muslim dalam menafsirkan al-Qu’ran tanpa memahami sebab-seban turunnya al-Qur’an yaitu Usman bin Muad amr bin Muad. Keduanya adalah orang yang mempunyai asumsi atau penilaian bahwa minuman keras itu mubah, sehingga orang muslim boleh meminumnya. Dan mereka menafsirkan hukum itu dari  ayat ليس علي الذين امنوا وعملوا sampai akhir ayat.[3]
Kejadian yang sembrono ini menjadi catatan kita untuk bertindak hati-hati dan menyadari siapa diri kita dan untuk apa sebenarnya. Kewaspadaan terhadapa segala hal, baik yang bersifat tulus, lembut, jahat, dan jelek. Nilai waspada ini sebetulnya bukan untuk membuat jarak terhadap hal asing tapi sebagai penghormatan diri kita terhadap ni’mat Tuhan atau rasa syukur diri kita kepada Allah atas segala kranuia yang telah diberikan-Nya.
Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis ingin menekankan kembali pada diri sendiri dan kepada pembaca, bahwa identitas menjadi penting jika kita merasa butuh kepada ilmu dan nikmat—baik nikmat duniawi atau pun surgawi. Dan indentitas menjadi tidak penting jika hanya mengunggulkan nafsu dan ke-ego-an. Dalam skala kecil, identitas bisa membawa ke suasana aman dan tentram apalagi dalam skala besar, banyak membawa manfaat dan kebahagiaan.
Dalam cerita kerajaan, seorang yang ahli jenaka meninggal, bukan membawa tangis tapi kebahagian karena ceritanya yang lucu tentang kematiannya. Hal ini berangkat dari banyak orang yang menunjukkan identitas pribadi dan apa yang sebetulnya terjadi.  Meski pada awalnya mereka takut mengatakannya karena akan mendapat hukuman dari raja dengan sebab dianggap telah membunuh pelawak kesayangannya tapi akhirnya mereka sadar dan jujur untuk bercerita bahwasannya dia (pelawak) meninggal ketika waktu makan di rumah saudagar dan siap menerima hukuman jika memang dianggap bersalah. Pada akhirnya bawalah identitasmu dengan jujur dan ikhlas agar kelak kamu mendapat pengakuan yang sama dari identitasmu.




[1] data untuk memperjelas suatu objek; bisa bernilai buruk, bisa bernilai baik. Semua tergantung bagaiamana data yang digunakan untuk mengukukuhkan objek.
[2] Asli dari redaksi ini bukanlah dengan adanya pertanyaan apakah atau punya maksud lain, tapi pertanyaan tentang siapa maksud dari ayat (واذ اخذالله ميثقالذين sampai ayat  .(لاتحسبنّ لذين يفرحون الكتابKemudian untuk menyesuaikan redaksi penulis, pertanyaan itu dikerucutkan dengan kata apakah yang subtansinya masih sama dengan aslinya.  Lihat lebih jauh : Badrudin Muhammad bin Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, Maktabah Asriyah, Beirut  Lebanon, editorial Muhammad Abu Fadhl Ibrahim, vol I, 2009, hlm. 36
[3] Badrudin Muhammad bin Abdullah, loc.cit, hlm, 37
Share on Google Plus

About LUTFI

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar