Hal ini berawal ketika Marwan bin Hikam mengutus seorang
penjaga rumahnya untuk pergi kerumah sahabat Ibnu Abbas dalam rangka menayakan
permasalahan tentang ‘asbabun nuzul’ dari sebuah ayat. Pertanyaan tersebut
adalah apakah ayat ini turun untuk orang muslim atau punya maksud lain? Jawab Ibnu
Abbas : sebetulnya ayat ini tidak ditunjukkan untuk orang muslim, tapi untuk
orang-orang Ahlu Kitab yang suka membagakan diri dan memuji dirinya sendiri.[2]
Penuturan beliau (Ibnu Abbas) berawal
dari cerita nabi Muhammad ketika bertanya kepada Ahlu Kitab tentang sesuatu
(hal yang bersifat akidah, ideologi dan teologi) mereka kemudian menyembunyikannya,
tetapi mengkabarkannya kepada orang lain. Perbuatan inilah yang menjadi saksi
turunnya ayat tersebut.
Saksi turunnya ayat al-Qur’an di bahasakan oleh ilmu
penafsiran dengan ‘asbabun nuzul’. Asbabun nuzul ini menjadi penjelas setiap
ayat al-Qur’an yang dianggap masih tabu. Fungsi penjelas ini, tidak hanya
berputar pada penjelasan saja, tapi bisa berfungsi mengerucutkan sebuah hukum
yang mutasabih. Hal ini diamini oleh imam Haramain (Abu Ma’ali Abdul Malik bin
Abi Abdillah bin Yusuf bin Muhammad bin Muhammad al-Juwaini) bahwa asbabun
nuzul adalah metode yang paling bagus dalam menafsirkan al-Qur’an dan menjaga
lafadz dari penakwilan tanpa sebab, dalam arti lain membawa penfsiran ke arah
yang lebih benar atau penjelas lafadz yang tabu.
Fungsi yang identik ini adalah salah satu tanda bahwa al-Qur’an
mempunyai identitas yang tidak bisa dipalsukan, meski dari segi penfsirannya,
karena ia (al-Qu’an) mempunyai kartu asbabun nuzul untuk pembuktiannya. Jika kita melihat ke dalam sejarahnya, al-Qur’an
diturunkan untuk seluruh umat manusia dan sebagai penyempurna kitab-kitab para
nabi terdahulu. Dibagian bahasanya terdapat 7 bacaan; dibagian ke-ilmuannya
terdapat macam-macam pengajaran; dibagian logikanya terbagi bermacam-macam
kriteria; dibagian petuah-petuah terekam macam-macam cerita, yang semua terlalu
luas untuk diidentifikasi atau dijadikan identitas al-Qur’an.
Ke-objektifan asbabun nuzul seharusnya menjadi contoh
manusia dalam membawa identitas pribadinya masing-masing—baik yang beragama
Islam, hindu, budha, berstatus pelajar, santri, pekerja, guru, doktor dll. Keberadaan
mereka di manapun itu, akan selalu mengundang pertanyaan siapa kamu. Apalagi jika
prilaku mereka tidak sesuai dengan norma dan nilai masyarakat yang berlaku,
justru semakin menambah runcingnya pertanyaan tentang siapa dirinya. Coba kita
lihat kembali kejadian-kejadian yang telah berlalu! Bom bunuh diri dibali
adalah tindakan yang menyalahi norma dan nilai masyarakat Indonesia, hal itu
akhirnya menimbulkan pertanyaan tentang siapa pelaku bom bunuh diri tersebut,
atas dasar apa mereka melakukannya, apa agamanya, atas siapa mereka berkomando,
banyak lagi pertanyaan yang keluar untuk menelusuri identitas pelaku tersebut
dan sebab terjadinya bom bunuh diri. Contoh
kasus lain yaitu, tindak asusila yang dilakukan pelajar membawa banyak
pertanyaan sampai kehilangan harga diri serta membawa ke-identitas yang tabu di
masyarakat. Bila pernyataan atas tindakan asusila ini tidak benar, bisa
melakukan angket ke dalam setiam organ masyarakat untuk membuktikan bahwa
tindak asusila tidak menyalahi norma yang berlaku untuk dikalangan masyarakat
Indonesia.
Di sisi lain dari pelanggaran normatif kehidupan, membawa
sesuatu yang bersangkutan jatuh ke dalam lobang kenistaan atau mendapat asumsi
jelek dari orang sekitar, sampai-sampai hilang kepercayaan terhadapnya. Akan tetapi,
jika pelanggaran itu diganti dengan ketaatan dan ke-tanggungjawaban dalam
membawa simbol identitas maka sesuatu yang bersangkutan pun ikut mendapat
penghargaan. Di sinilah letak pentingnya identitas seseorang, begitu juga asbabun
nuzul dalam penfsiran, membawa sekitarnya mendapat bau yang ia (identitas)
sebarkan.
Tetapi nilai penting tersebut bisa menjadi pudar, bila
identitas dipalsukan dengan sesuatu yang mungkin sulit dinalar. Dalam artian,
si-pembawa identitas tidak menyadari siapa dirinya dan apa yang dibawanya. Hal ini
sesuai dengan se-seorang yang menafsirkan al-Qur’an tanpa mengetahui asbabun
nuzul. Seperti yang pernah terjadi seorang muslim dalam menafsirkan al-Qu’ran
tanpa memahami sebab-seban turunnya al-Qur’an yaitu Usman bin Muad amr bin
Muad. Keduanya adalah orang yang mempunyai asumsi atau penilaian bahwa minuman
keras itu mubah, sehingga orang muslim boleh meminumnya. Dan mereka menafsirkan
hukum itu dari ayat ليس علي الذين امنوا وعملوا sampai akhir ayat.[3]
Kejadian yang sembrono
ini menjadi catatan kita untuk bertindak hati-hati dan menyadari siapa diri
kita dan untuk apa sebenarnya. Kewaspadaan terhadapa segala hal, baik yang
bersifat tulus, lembut, jahat, dan jelek. Nilai waspada ini sebetulnya bukan
untuk membuat jarak terhadap hal asing tapi sebagai penghormatan diri kita
terhadap ni’mat Tuhan atau rasa syukur diri kita kepada Allah atas segala
kranuia yang telah diberikan-Nya.
Untuk mengakhiri
tulisan ini, penulis ingin menekankan kembali pada diri sendiri dan kepada
pembaca, bahwa identitas menjadi penting jika kita merasa butuh kepada ilmu dan
nikmat—baik nikmat duniawi atau pun surgawi. Dan indentitas menjadi tidak penting
jika hanya mengunggulkan nafsu dan ke-ego-an. Dalam skala kecil, identitas bisa
membawa ke suasana aman dan tentram apalagi dalam skala besar, banyak membawa
manfaat dan kebahagiaan.
Dalam cerita kerajaan,
seorang yang ahli jenaka meninggal, bukan membawa tangis tapi kebahagian karena
ceritanya yang lucu tentang kematiannya. Hal ini berangkat dari banyak orang yang
menunjukkan identitas pribadi dan apa yang sebetulnya terjadi. Meski pada awalnya mereka takut mengatakannya
karena akan mendapat hukuman dari raja dengan sebab dianggap telah membunuh pelawak
kesayangannya tapi akhirnya mereka sadar dan jujur untuk bercerita bahwasannya
dia (pelawak) meninggal ketika waktu makan di rumah saudagar dan siap menerima
hukuman jika memang dianggap bersalah. Pada akhirnya bawalah identitasmu dengan
jujur dan ikhlas agar kelak kamu mendapat pengakuan yang sama dari identitasmu.
[1] data
untuk memperjelas suatu objek; bisa bernilai buruk, bisa bernilai baik. Semua tergantung
bagaiamana data yang digunakan untuk mengukukuhkan objek.
[2] Asli
dari redaksi ini bukanlah dengan adanya pertanyaan apakah atau punya maksud
lain, tapi pertanyaan tentang siapa maksud dari ayat (واذ اخذالله ميثقالذين sampai ayat .(لاتحسبنّ لذين يفرحون الكتابKemudian untuk menyesuaikan redaksi penulis,
pertanyaan itu dikerucutkan dengan kata apakah yang subtansinya masih sama
dengan aslinya. Lihat lebih jauh :
Badrudin Muhammad bin Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an,
Maktabah Asriyah, Beirut Lebanon,
editorial Muhammad Abu Fadhl Ibrahim, vol I, 2009, hlm. 36
[3]
Badrudin Muhammad bin Abdullah, loc.cit, hlm, 37
0 komentar:
Posting Komentar